Can we apply business concepts into the Church Organization?

SOP

Semalam saya menghadiri rapat Tim Evaluasi Rencana & Pelaksanaan Program dan Anggaran (ERPPA) dengan Tim Standard Operating Procedure (SOP). Pokok pembahasan dalam rapat tersebut untuk mendengarkan pemaparan dari Tim SOP atas progres dan hasil kerja pembuatan SOP kegiatan-kegiatan di GKI Kebayoran Baru.

Menarik sekali bahwa sekarang dalam organisasi Gereja pun sudah diterapkan SOP. Mungkin ini bukan hal baru, namun menjadi menarik karena konsep SOP sendiri merupakan aplikasi umum dari organisasi bisnis.

Kemudian dalam rapat diketahui bahwa masih banyak kegiatan di ruang lingkup Gereja yang tidak mempunyai Kebijakan Dasar, Pedoman, Petunjuk Pelaksanaan (JukLak) dan Petunjuk Teknis (JukNis). Contohnya seperti SOP pembentukan ke-Panitia-an seperti: Panitia Natal, Panitia Paskah, Panitia Bulan Keluarga dan lainnya.

Tim ERPPA, dimana saya sebagai anggotanya, memiliki interest untuk mengetahui dan memiliki SOP kegiatan, agar kami dapat mengevaluasi rencana dan pelaksanaan program dengan tolak ukur yang tepat. SOP memberikan Juklak suatu kegiatan dan menggambarkan (mapping) proses perencanaan, pelaksanaan dan kontrol, sehingga dalam evaluasi kegiatan akan lebih jelas melihat kesesuaian antara Rencana dan Pelaksanaan.

WACANA KONSEP BSC

Setelah mendengarkan paparan Tim SOP, bahan diskusi berkembang ke hal-hal diluar SOP, khususnya mengenari konsep-konsep bisa diterapkan di Gereja. Sebagaimana SOP adalah salah satu aplikasi atau konsep Bisnis, maka bisakah kita mengaplikasikan Balanced Score Card (BSC) kedalam organisasi Gereja. Sebelum itu Gereja pun telah memiliki konsep Visi, Misi, Tujuan, Strategi dan Program.

Sebenarnya, bisa saja BSC diterapkan dalam organisasi Gereja. Alasan mendasarnya Gereja sudah memiliki Visi, Misi, Tujuan, Strategi dan Program yang bisa dipetakan dalam BSC. Dan BSC bisa menjadi alat penilaian performa yang bagus untuk sebuah organisasi, termasuk Gereja.

Namun pertanyaan-nya adalah konsep BSC sendiri yang lebih ke Financial-Driven, seperti ukuran tingkat pengembalian keuntungan (Profitability – ROI, ROE etc). Dimana hal-hal ini sangat ditakuti tidak bersifat “Rohani”.  Sangat bertentangan dengan sifat dasar Gereja yang berupa “Pelayananan”. Mungkin iya benar bahwa BSC itu sangat business minded ataupun profit oriented yang terlalu duniawi (yaitu “uang”).

Tetapi bukankah di Gereja juga ada ‘uang-uang’ seperti uang kolekte, anggaran kegiatan, dana pensiun, asuransi, donor, sumbangan hibah dll. Selama ini ada ketidak-maksimal-an dalam penggunaan uang Gereja. Bahkan jika ditelusuri hasil audit keuangan Gereja oleh Badan Pemeriksa Keuangan Gereja (BPK), didapati bahwa lebih dari 50% uang hasil kolekte, donor dan sumbangan digunakan untuk membiayai KONSUMSI (makanan dan minuman) dimana sebagian besar kegiatannya adalah Rapat, Rapat dan Rapat.

Nah bukankah itu namanya pemborosan?…atau ketidak tepatan pengelolaan anggaran?

Karena itu mungkin saja konsep BSC dapat membantu organisasi Gereja untuk mengendalikan dan memonitoring rencana dan pelaksanaan program ataupun kegiatan.

MODIFIKASI KONSEP BSC

Jikalau kegalauan yang menghantui pelaksanaan BSC adalah sifatnya yang Profit-Oriented, bukankah kita masih bisa memodifikasinya? Bahkan Rick Warren dalam bukunya Purpose-Driven Church juga menggunakan Scorecards untuk membuat perencanaan strategis Gereja.

Misalkan kita arahkan Financial perspective kedalam efisiensi dan efektifitas keuangan seperti: menurunnya rasio anggaran konsumsi terhadap total anggaran atau peningkatan 20% anggaran untuk kegiatan penginjilan.

Alternatif lain bila masih tidak sreg dengan adanya Financial Perspective, bisa saja diganti atau dihilangkan sama sekali. Jadi yang menjadi perspective dalam BSC organisasi Gereja cukup 3 perspective yaitu: Learning & Growth, Internal Drivers, dan Customers (Jemaat). Jadi sangat memungkinkan untuk memodifikasi perspectives dalam BSC untuk diaplikasikan dalam organisasi Gereja.

Pokok bahasan mengenai aplikasi BSC dalam organisasi Gereja akan saya lanjutkan dalam tulisan say berikutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: