ANALISA SWOT UNTUK PELAYANAN GEREJA – 5 Langkah

July 6, 2011

Analisa SWOT adalah suatu teknik analisa yang digunakan untuk:

  1. Mengidentifikasi dan memetakan faktor-faktor lingkungan baik secara internal dan eksternal dari suatu organisasi
  2. Menganalisa situasi dan kondisi dari faktor-faktor lingkungan tersebut, dan bagaimana dampak dan relevansinya terhadap terhadap kinerja organisasi
  3. Memberikan arahan kepada tujuan dan perencanaan strategis dari sebuah organisasi

Analisa SWOT dalam dunia sekuler dan dunia bisnis dipakai sebagai teknik analisa terhadap posisi persaingan sebuah perusahaan/ organisasi dalam sebuah industri. Namun dalam konteks pelayanan gerejawi, Analisa SWOT dapat juga digunakan untuk:

  1. Memetakan kondisi dan situasi faktor-faktor lingkungan gereja yang berdampak terhadap pelayanan gereja
  2. Merumuskan rencana strategis dalam mencapai tujuan dan MISI pelayanan yaitu: Diakonia, Koinonia, dan Marturia

Karena itu ada dua kata kunci disini mengenai Analisa SWOT, yaitu “memetakan” dan “merumuskan”. Dalam hal “memetakan”, Analisa SWOT ibarat sebuah peta yang memberikan gambaran mengenai situasi dan kondisi suatu daerah. Dengan membaca peta kita dapat mengetahui arah dan tujuan. Kemudian kita perlu “merumuskan” atau menentukan bagaimana cara kita mencapai tujuan itu.

 

Analisa SWOT yang baik tidak hanya berhenti pada Matrix Analisa SWOT. Tetapi sampai kepada perumusan rencana strategis, sebagai outcome dari Analisa SWOT. Perlu diingat bahwa tipe Analisa SWOT yang akan kita bahas kali ini disesuaikan dengan konteks pelayanan gerejawi. Bukan bertujuan untuk memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya. Ataupun untuk melumpuhkan pesaing kita. Definis pesaing pun kurang tepat digunakan dalam Analisa SWOT ini. Saya akan jelaskan nanti bagaimana perbedaannya.

Kemudian tulisan ini saya akan mengajak kita untuk menelusuri 5 langkah tuntas dalam membuat untuk membuat Analisa SWOT, yaitu:

  1. Mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan di sekitar GKI KB. Faktor-faktor lingkungan adalah:
  • Stakeholders (pemangku kepentingan)
  • Action of stakeholders (aksi dari para pemangku kepentingan, atau hal-hal yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan)
  • Resources (sumber daya)
  1. Mengkategorikan faktor-faktor lingkungan tersebut kedalam 2 (dua) kategori:
  • Lingkungan Internal (lingkungan yang bersinggungan secara langsung atau dari dalam organisasi)
  • Lingkungan External (lingkungan yang berada di luar organisasi, namun berdampak terhadap kelangsungan organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung)
  1. Menganalisis dampak dan relevansi kondisi faktor-faktor lingkungan terhadap kegiatan pelayanan Gereja
  • Mengukur dampak positif (+) dan negatif (-)
  • Mengukur besar/kecil dampak lingkungan:
  •  rendah, menengah, dan tinggi
  1. Memetakan faktor-faktor lingkungan kedalam matriks Analisa SWOT:
  • Internal & Positif          Strength (Kekuatan)         
  • Internal & Negatif          Weakness (Kelemahan)     
  • External & Positif          Opportunity (Kesempatan)
  • External & Negatif      Threat (Ancaman)
  1. Menyusun rencana strategis matriks dari hasil SWOT:
  • Pertanyaan besarnya: “Setelah Analisa SWOT, so what???”…
  • Menggunakan Analisa SWOT untuk membantu kita untuk menyusun Rencana Strategis dan mencapai tujuan

Penjelasan dari langkah-langkah ini akan saya ulas dalam tulisan saya berikutnya.

Experiencing God silenty in a quiet place

May 17, 2011

Kapankah kita bisa bertemu Tuhan? Dalam kondisi apakah Tuhan hadir?

Tuhan Maha Hadir, Ia dapat kapanpun dan dimanapun hadir. Namun kita harus membuka diri untuk mengalami pertemuan dengan Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari yang sudah sumpek dengan rutinitas, seringkali kita merindukan kehadiran Tuhan. Seakan-akan tiada waktu untuk Tuhan. Semua sudah diberikan untuk keluarga, pekerjaan, dan hal yang lainnya.

Sering kita membutuhkan waktu teduh bersama Tuhan. Seperti Tuhan Yesus yang selalu menyempatkan diri, bangun pagi-pagi, berdoa dalam kesunyian. Bersekutu dengan Allah Bapa dalam keheningan.


Betapa kita merindukan waktu teduh itu. Meluangkan waktu pribadi, dan menarik diri dari kesibukan. Sehingga hati kita terfokus pada Tuhan saja.

Dalam keheningan itulah diri kita disegarkan kembali. Iman kita direstorasi. Kekuatan kita dipulihkan. Hanya dalam keheningan persekutuan dengan Tuhan. Mengalami Tuhan dalam tempat tenang.

Dan apabila kita kembali kepada kehidupan kita, kita mempunyai semangat baru untuk memperbaharui dunia dalam kasih Tuhan

Presentasi Tim ERPA pada PMJ GKI Kebayoran Baru

May 8, 2011

Presentasi TIM ERPA pada Persidangan Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru 1 Mei 2011

Pada tanggal 1 Mei 2011 lalu, atas undangan dari Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru, Tim ERPA memaparkan tugas dan job description Tim ERPA didalam pelayananan di GKI Kebayoran Baru.

Dalam pemaparan Tim ERPA, dijelaskan bahwa tugas pokok Tim adalah membantu Majelis Jemaat dalam mengevaluasi pelaksanaan program kegiatan yang dilakukan oleh Majelis Bidang (Mabid) dan Bidang Pelayanan Jemaat (BPJ) dalam lingkup keorganisasian GKI Kebayoran Baru. Untuk menjalankan tugasnya, Tim meminta dukungan dan komitmen dari segenap Mabid dan BPJ agar menyerahkan laporan kegiatan dengan tepat waktu, akurat dan obyektif.

Tujuan dari evaluasi pelaksanaan program kegiatan yang dilakukan oleh Tim ERPA adalah:

1.Menyelaraskan:
   •Program dengan MISI
   •Pelaksanaan program dengan tujuan dan sasaran rencana program
2.Menghindari:
   •“copy-paste”
   •Pengulangan kesalahan
3.Melihat apakah program dilaksanakan secara efektifdan efisien.
4.Memberikan rekomendasi, sebagai:
   •Masukan bagi Rencana  Program tahun berjalan dan tahun berikutnya
   •Bahan Laporan Tahunan Kehidupan Jemaat
Sementara itu, faktor kunci sukses (key success factor) terlaksananya evaluasi dengan baik adalah:
1.Dukungan & Komitmen:
   •Majelis Jemaat
   •Semua pelaksana program
2.Proposal atau Kerangka Acuan Kerja (TOR) dalam membuat perencanaan
3.Keseragaman Format
   •Proposal RPA
   •Laporan Pelaksanaan Kegiatan
4.Laporan Hasil Pelaksanaan Program
   •Tepat waktu
   •Akurat

Can we apply business concepts into the Church Organization?

March 31, 2010

SOP

Semalam saya menghadiri rapat Tim Evaluasi Rencana & Pelaksanaan Program dan Anggaran (ERPPA) dengan Tim Standard Operating Procedure (SOP). Pokok pembahasan dalam rapat tersebut untuk mendengarkan pemaparan dari Tim SOP atas progres dan hasil kerja pembuatan SOP kegiatan-kegiatan di GKI Kebayoran Baru.

Menarik sekali bahwa sekarang dalam organisasi Gereja pun sudah diterapkan SOP. Mungkin ini bukan hal baru, namun menjadi menarik karena konsep SOP sendiri merupakan aplikasi umum dari organisasi bisnis.

Kemudian dalam rapat diketahui bahwa masih banyak kegiatan di ruang lingkup Gereja yang tidak mempunyai Kebijakan Dasar, Pedoman, Petunjuk Pelaksanaan (JukLak) dan Petunjuk Teknis (JukNis). Contohnya seperti SOP pembentukan ke-Panitia-an seperti: Panitia Natal, Panitia Paskah, Panitia Bulan Keluarga dan lainnya.

Tim ERPPA, dimana saya sebagai anggotanya, memiliki interest untuk mengetahui dan memiliki SOP kegiatan, agar kami dapat mengevaluasi rencana dan pelaksanaan program dengan tolak ukur yang tepat. SOP memberikan Juklak suatu kegiatan dan menggambarkan (mapping) proses perencanaan, pelaksanaan dan kontrol, sehingga dalam evaluasi kegiatan akan lebih jelas melihat kesesuaian antara Rencana dan Pelaksanaan.

WACANA KONSEP BSC

Setelah mendengarkan paparan Tim SOP, bahan diskusi berkembang ke hal-hal diluar SOP, khususnya mengenari konsep-konsep bisa diterapkan di Gereja. Sebagaimana SOP adalah salah satu aplikasi atau konsep Bisnis, maka bisakah kita mengaplikasikan Balanced Score Card (BSC) kedalam organisasi Gereja. Sebelum itu Gereja pun telah memiliki konsep Visi, Misi, Tujuan, Strategi dan Program.

Sebenarnya, bisa saja BSC diterapkan dalam organisasi Gereja. Alasan mendasarnya Gereja sudah memiliki Visi, Misi, Tujuan, Strategi dan Program yang bisa dipetakan dalam BSC. Dan BSC bisa menjadi alat penilaian performa yang bagus untuk sebuah organisasi, termasuk Gereja.

Namun pertanyaan-nya adalah konsep BSC sendiri yang lebih ke Financial-Driven, seperti ukuran tingkat pengembalian keuntungan (Profitability – ROI, ROE etc). Dimana hal-hal ini sangat ditakuti tidak bersifat “Rohani”.  Sangat bertentangan dengan sifat dasar Gereja yang berupa “Pelayananan”. Mungkin iya benar bahwa BSC itu sangat business minded ataupun profit oriented yang terlalu duniawi (yaitu “uang”).

Tetapi bukankah di Gereja juga ada ‘uang-uang’ seperti uang kolekte, anggaran kegiatan, dana pensiun, asuransi, donor, sumbangan hibah dll. Selama ini ada ketidak-maksimal-an dalam penggunaan uang Gereja. Bahkan jika ditelusuri hasil audit keuangan Gereja oleh Badan Pemeriksa Keuangan Gereja (BPK), didapati bahwa lebih dari 50% uang hasil kolekte, donor dan sumbangan digunakan untuk membiayai KONSUMSI (makanan dan minuman) dimana sebagian besar kegiatannya adalah Rapat, Rapat dan Rapat.

Nah bukankah itu namanya pemborosan?…atau ketidak tepatan pengelolaan anggaran?

Karena itu mungkin saja konsep BSC dapat membantu organisasi Gereja untuk mengendalikan dan memonitoring rencana dan pelaksanaan program ataupun kegiatan.

MODIFIKASI KONSEP BSC

Jikalau kegalauan yang menghantui pelaksanaan BSC adalah sifatnya yang Profit-Oriented, bukankah kita masih bisa memodifikasinya? Bahkan Rick Warren dalam bukunya Purpose-Driven Church juga menggunakan Scorecards untuk membuat perencanaan strategis Gereja.

Misalkan kita arahkan Financial perspective kedalam efisiensi dan efektifitas keuangan seperti: menurunnya rasio anggaran konsumsi terhadap total anggaran atau peningkatan 20% anggaran untuk kegiatan penginjilan.

Alternatif lain bila masih tidak sreg dengan adanya Financial Perspective, bisa saja diganti atau dihilangkan sama sekali. Jadi yang menjadi perspective dalam BSC organisasi Gereja cukup 3 perspective yaitu: Learning & Growth, Internal Drivers, dan Customers (Jemaat). Jadi sangat memungkinkan untuk memodifikasi perspectives dalam BSC untuk diaplikasikan dalam organisasi Gereja.

Pokok bahasan mengenai aplikasi BSC dalam organisasi Gereja akan saya lanjutkan dalam tulisan say berikutnya.

My Most Favourite Christmas Album of All Time

December 17, 2009

Natal semakin dekat! Berbagai macam kegiatan menyambut natal telah terlihat di berbagai tempat. Di rumah, gereja, kantor, mall, panti dan lainnya. Setiap umat Kristen antusias membangun suasana natal ditempatnya masing-masing. Ada yang menghias pohon cemara, menggantungkan kaos kaki Sinterklas, menyaksikan Christmas Carol dan lainnya.

Kalau saya membangun suasana natal dengan cara memutar CD-CD natal baik itu di rumah, mobil ataupun di kantor. Lagu-lagu natal selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan setiap menyambut natal, tidak hanya bagi saya tetapi juga bagi setiap umat nasrani. Dalam 2 minggu ini saya mengeluarkan koleksi CD-CD natal dari kotak penyimpanan, dan memutarnya berkali-kali. Walaupun disetiap CD banyak lagu-lagu yang sama, namun masing-masing punya keunikannya sendiri seperti aransemen musik yang berbeda, ritme, corak, tipe dan warna vokal penyanyi-nya.

Saya ingin mencoba membuat daftar album CD natal terfavorit sepanjang masa versi saya, yang pastinya sesuai dengan selera dan cohort saya, dengan alasannya masing-masing. Berikut daftarnya:

1. Clay Aiken – Merry Christmas with Love.

Album CD natal ini merupakan album natal terfavorit saya. Alasannya sederhana: suara Clay Aiken yang yahud dan aransemen musik yang bagus. Jebolan juara 2 American Idol ini memiliki suara yang sangat dasyat! Kemudian repertoire album ini juga mempunyai range yang beragam, dari tradisional Christmas Carol sampai ke contemporary christmas song. Ada juga lagu natal kontemporer yang ditulis ulang, seperti contohnya dalam lagu “Mary, did you know?”, aransemen lagu ini dibuat sangat berbeda dari versi aslinya. Lagu ini membangun suasana mistis namun agung. Ritme dan corak vokal Clay Aiken dalam lagu ini juga terasa sangat emosional dan menjiwai. Seakan membawa kita kembali ke peristiwa kelahiran Tuhan Yesus dengan mencoba merasakan apa yang dipikirkan Maria, bunda Yesus, ketikaYesus dilahirkan. Kemudian di lagu lainnya kita dapat mendengarkan dengan jelas karakter suara Clay yang jernih dan ‘powerful’ seperti di track “Don’t save it all for Christmas Day”. Coba dengarkan suara Clay di refrain ke-3 ketika suaranya refrain-nya naik 1 oktaf dan bervibrasi selama lebih dari 10 detik! Sungguh dasyat.

2. Bob Fitts – Bethlehem Treasure.

Bob Fitts, seorang Penyanyi Gospel handal dan telah memenangkan banyak Dove Awards,  menelurkan satu album natal yang sangat kental dengan perpaduan choir, orkestra dan pop. Album natal ini menyertakan banyak penyanyi Gospel seperti Muschow & Tucker di lagu “We three kings of orient are”, Kelly Willard di “Bethlehem Treasure”, Leny LeBlanc di “O, little town of Bethlehem”, dan Saddleback Superkids Choir di “Away in a manger” dan “Infant holy, Infant lowly”. Lagu pembuka “How great our joy” menyentak dengan harmonisasi suara yang menggerakan mood.  Kemudian dari lagu ke lagu berikutnya dibawakan seumpama sebuah cerita Natal yang indah dan merdu. Dalam album ini dapat didengar suara Choir anak-anak yang merdu dan harmonis di track “Away in a manger”. Dalam lagu ini tidak banyak membunyikan alat musik sehingga sangat pas diputar menjelang malam natal. Kemudian ada aransemen unik pada lagu “O, little town of Bethlehem” yang dinyanyikan oleh Lenny LeBlanc. Lagu tersebut digubah menjadi semi jazz dan pop dengan ketukan yang berbeda dari biasanya. Sepertinya lagu ini sangat pas dengan karakter suara Lenny yang alto. Secara keseluruhan saya sangat menyukai cara menutur album ini dengan lagu-lagunya untuk membangun semarak natal.

3. Mariah Carey – Merry Christmas.

Suara Mariah Carey memang sangat khas di jalur musik pop dan R&B. Namun ketika mengeluarkan album natal, suaranya pun tetap terdengar khas. Dengar saja suara manjanya  di track “All I want for Christmas is you”. Secara keseluruhan dalam album ini Mariah Carey tetap mampu membawa ciri khas natal dengan penuturan ala R&B yang kental, seperti pada track “O Holy Night”. Walau sering berimprovisasi, di track tersebut Mariah sangat berhati-hati dengan improvisasi suara 7 oktaf-nya, sehingga dia mampu membawakannya dengan gemilang tanpa merusak keagungan lagu tersebut. Album ini sangat terasa suasana “Joy” dengan aransemen lagu-lagu upbeat seperti “Joy to the world”, “Santa claus is coming to town”, “All i want for Christmas is you” dan “Hark! The heral angels sings/Gloria Excelsis Deo”.

4. Josh Groban – Noel.

Dengan suara bak malaikat, Josh Groban memberikan sentuhan khidmat dan agung dalam album natalnya “Noel”. Dalam album ini David Foster turut sebagai produser. Komposisi dan aransemen setiap lagu sangat terkesan opera dan orkestratif. Namun ada juga sentuhan R&B seperti dalam lagu “Angel we have heard on high” duet bersama Brian McKnight. Mendengar album natal ini serasa sedang berada di taman eden, “full orchestra and angelic voices“.

5. Don Moen – Christmas

Don Moen sangat terkenal sebagai penyanyi Gospel mainstream, yang menyanyikan lagu-lagu praise & worship dengan berbagai corak musik. Ciri-cirinya tidak berubah dalam album natal Christmas ini. Masih dengan suara khasnya membuat album ini kental suasana Praise & worship. Tidak ada yang kurang dalam komposisi setiap lagu, namun terasa sama seperti mendengarkan album gospelnya yang lain, hanya bedanya bertemakan natal. Namun album ini tetap sangat bagus karena penuh dengan aransemen kelas dunia, dimana sebagian besar musisi pengiring Don Moen adalah para maestro musik. Selain itu, recording album ini sangat baik, dengan terdengar jelasnya suara-suara perkusi yang bukan sekedar pelengkap. Album ini sangat layak dimiliki dan dapat memberikan ketenangan rohani ketika mendengarkannya.

Tim ERPA (2)

November 30, 2009

Dalam satu bulan terakhir, Tim ERPA telah mengadakan pertemuan dengan semua Komisi dan Majelis Bidang. Pembahasan utama dalam setiap pertemuan adalah untuk menyusun matrix kesesuaian antara RPA dengan Misi dan Program yang telah dicanangkan. Ketika melakukan penyusunan, Tim ERPA menjadi fasilitator dan para Komisi dan Mabid memberikan masukannya. Sehingga hasilnya merupakan keputusan bersama.

Banyak hal-hal yang unik yang terjadi dalam setiap pertemuan. Yang paling banyak adalah para Komisi dan Mabid “curhat” kepada Tim ERPA. Mereka curhat akan program-program dan anggaran yang tercatat dalam buku tebal RPA banyak yang kurang pas, tidak sesuai dengan keinginan, atau banyak yang kurang terkoordinir dengan baik. Bila disimpulkan hasil pertemuan-pertemuan tersebut menelurkan 3 temuan umum yaitu:

 1. Pengulangan: Hampir seluruh Program dan Anggaran merupakan pengulangan dari tahun sebelumnya – Copy & Paste   . Dampak: – Program seringkali tidak relevan dengan perubahan lingkungan –RPA kurang relevan dengan Visi & MIsi Gereja yang baru 2009-2015 – Tidak ada dampak di akar rumput (Jemaat).

2. Duplikasi: Banyak program yang sama persis dilakukan di lebih dari satu komisi, contoh; Pemahaman Alkitab (PA), Pelayanan Kasih (PelKas), Persekutuan Doa (PD), Bantuan Natura dll. Dampak: – Tidak terkoordinirnya tema-tema PA sesuai Visi & Misi  –  Konflik kepentingan, dengan perebutan ruangan dan fasilitas Gereja atau “perebutan” partisipan – Memperbesar Resources Gap: kurangnya ruangan, tenaga kategorial, Pendeta – Penghamburan sumber daya: tenaga, uang, makanan, waktu dll.

3. Tumpang Tindih: Banyak program-program dan anggaran yang saling tumpang tindih.  - Mis-koordinasi; ada pembedaan pelaksana program dan pemegang anggaran sehingga tidak terkoordinir dengan baik terutama saat LPJ. – Menyusahkan pertanggung-jawaban dan laporan realisasi.

 

Hingga saat ini begitulah temuan-temuan umum hasil dari pertemuan kami dengan para Komisi dan Mabid. Malam hari ini kami akan menyampaikan hasil temuan ini kepada Tim RPA. Semoga pertemuan tersebut dapat berjalan dengan lancar dan masing-masing kami dapat melihat benang merahnya bersama, dan memohon Tuhan menerangi hati dan pikiran kami.

 

Tim ERPA (1)

November 5, 2009

Di gereja kami dibentuk sebuah Tim ERPA (Evaluasi Rencana Program dan Anggran) yang bertugas untuk memberikan penilaian atas pelaksanaan Rencana Program dan Anggaran (RPA) masing-masing Komisi dan Majelis Bidang. Tim ini terbentuk lagi setelah sekian lama, dalam sejarah gereja, menghilang. Dan Tim ERPA ini baru memulai tugasnya pada pertengahan bulan Oktober lalu.

Tim ini berjumlah 10 orang yaitu 3 penatua aktif + 6 mantan penatua + saya (saya bukan penatua tetapi jemaat biasa) + 1 pendeta emeritus. Setiap anggota mempunyai keragaman dan latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang pernah bekerja di Bank, Konstraktor, dll. Dalam hal pengalaman pelayanan beberapa diantaranya merupakan mantan petinggi gereja.

Tugas pertama yang dilakukan adalah menghubungkan (linking) setiap poin RPA terhadap butir-butir Visi dan Misi Gereja 2009-2015. Kami menggunakan buku RPA setebal +/- 300 halaman sebagai acuan. Buku tersebut disusun oleh Sekretaris Umum (SekUm) gereja, yang isinya kompilasi mata program dan anggaran semua Komisi dan Mabid.

Kami berharap dapat mengerti RPA ketika membacanya. Namun yang kami dapatkan hanyalah mata anggaran saja. Didalam buku RPA tidak ada penjabaran dan penjelasan Program-program yang akan dilaksanakan. Jadi mungkin namanya bukan buku RPA tetapi lebih tepatnya buku RA (rencana anggaran).

Dampaknya kami harus lebih krearif lagi dalam memahami maksud, tujuan dan sasaran dari setiap mata anggaran tersebut. Akhirnya metode yang kami pakai sebagian besar brainstorming, dimana sebagian besar dari kami yang berpengalaman menjadi pengurus Komisi mencoba menjelaskan mata anggaran tersebut. Hasilnya adalah draft matrix misi dengan program.

Kemudian berikutnya kami akan mengadakan pertemuan dengan setiap Komisi dan Mabid untuk menajamkan matrix-matrix sesuai. Nantinya setelah semua rampung, kami akan memberikan rekomendasi-rekomendasi kepada Tim RPA atas hasil analisa kami. Regards,
Danny D. Kosasih

Kelompok Kecil

November 3, 2009

“Church should be big enough to celebrate, but also should be small enough to fellowship”

Terjemahan quote diatas kira-kira begini:
“Gereja dapat sebesar mungkin untuk merayakan, namun juga dapat sekecil mungkin untuk bersekutu”.

Dalam sebuah Gereja, bentuk persekutuan tidak harus selalu dalam jumlah yang besar, seperti pada ibadah hari minggu. Atau juga seperti ibadah padang atau ibadah-ibadah yang menyertakan lebih dari 30 orang. Namun bentuk persekutuan juga sangat bisa dalam jumlah yang lebih kecil, sekitar 5-10 orang. Persekutuan kecil ini biasa disebut Kelompok Kecil (KK) atau Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) atau Kelompok Sel (Komsel).

KK ada bentuk persekutuan yang menekankan pada kebersamaan, pertumbuhan dan persaudaraan diantara anggota-anggotanya. Kelebihan-kelebihan dari KK adalah:
1) Sesama anggota saling merasakan kasih persaudaraan, karena jumlahnya yang sedikit memampukan setiap anggota mengenal lebih dekat anggota yang lain.
2) Dalam KK setiap anggota dapat merasakan pertumbuhan imannya sendiri ataupun iman anggota lain, melalui kesaksian masing-masing anggota.
3) KK saling berbagi dan saling melengkapi. KK merupakan wadah sharing yang efektif, dimana setiap anggota dapat mencurahkan benak, perasaan dan harapannya.
4) KK memberikan wadah pertumbuhan iman bersama, saling menguatkan satu sama lain.
5) Anggota KK terus berkembang menjadi Pemimpin KK sehingga terjadi efek multiplikasi.

Masukan untuk Rencana Strategis GKI KB 2009 – 2015

November 3, 2009

A. Masukan atas Visi & Nilai-nilai

1) Visi

Berikut adalah masukan untuk perumusan kalimat Visi: (usulan tambahan dibuat dalam kata/kalimat yang bergaris bawah) Menjadi Jemaat Kristen yang mengasihi sehingga akrab, terbuka, peduli terhadap sesama dan lingkungannya, dan sehingga menjangkau keluar, sebagai murid, saksi dan hamba Allah, untuk memberitakan Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat. § Tambahan “terhadap sesama dan lingkungannya”, ditujukan untuk menegaskan subyek pelayanan dan kasih yaitu sesama manusia dan lingkungan (hayati dan non hayati). § Pencoretan kata “dan” menjadi “sehingga” menegaskan dampak atau konsekuensi dalam mengasihi sesama dan lingkungannya, adalah menjadi murid, saksi dan hamba Allah.

2) Nilai-nilai (Values)
Didalam Rencana Strategi, belum dirumuskan Nilai-Nilai (values) dari Jemaat GKI KB. Perumusan ini diperlukan karena Nilai-nilai dan budaya akan menjadi kode perilaku (code of conduct) sehari-hari dalam kehidupan berjemaat. Contoh: “Jemaat GKI KB adalah jemaat yang hidup untuk kemuliaan Allah melalui perilaku yang: rendah hati, jujur, bersimpati dan bekerja keras (sesuai strategi no.7 – sosialisasi etos kerja Kristen)”

B. Masukan Analisis Situasi

Sebelum masuk kedalam perumusan Visi, Misi dan Strategi, akan lebih baik jika kita terlebih dahulu menganalisis situasi kehidupan jemaat GKI KB saat ini dan harapan bersama di masa depan (current and future condition). Analisis situasi sangat berguna sebagai alat bantu memahami dan mengerti esensi dari kebutuhan-kebutuhan jemaat atas tujuan bersama (to understand the underlying needs of our common goal). Kemudian hasil analisis dapat digunakan untuk merumuskan Visi, Misi dan Strategi.

Beberapa analisis yang dapat dilakukan adalah:

1) Analisis segmentasi karakteristik jemaat.

o Karakteristik demografi. Contoh:
 - Berapa proporsi dan jumlah keanggotaan jemaat GKI KB saat ini? Anggota vs Non Anggota (simpatisan)?
 - Berapa proporsi anggota jemaat GKI KB yang wanita, pria, anak-anak, dewasa, dewasa muda dll?
 - Berapa proporsi simpatisan GKI KB yang wanita, pria, anak-anak, dewasa, dewasa muda dll?
 - dll
o Karakteristik Geografis. Contoh:
- Berapa banyak anggota/simpatisan yang bertempat tinggal di daerah Jakarta Selatan? Bekasi?
o Karakteristik Psikografis. Contoh:
 - Berapa banyak anggota/simpatisan yang menyukai musik dan menyanyi?
 - Berapa banyak anggota/ simpatisan yang hobi membaca, olahraga, menonton dll?

Tujuan dari analisis segmentasi karakteristik adalah untuk melihat segmen-segmen karakteristik yang ada didalam jemaat. Sehingga kita dapat memikirkan program yang mampu mengarahkan mereka ke arah pelayanan yang aktif, sesuai dengan karakteristiknya.

Selain itu analisis karakteristik jemaat juga dapat digunakan untuk mengevaluasi apakah program-program yang ada di GKI KB sekarang ini telah tepat sasaran (sesuai dengan karakteristik jemaat)?

2) Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities & Threats)

Apakah yang menjadi kekuatan kita saat ini? Apakah jumlah jemaat yang besar? Sumber daya manusia yang kompeten? Dana yang besar? Metode pelayanan yang efektif? dll?……. Dan apa saja kelemahan kita? Apakah jangkauan pelayanan yang terbatas? Inefesiensi dalam penggunaan anggaran? Sistem administrasi? Dll?………Kemudian ancaman apa yang kita hadapi? Pengajaran yang menyimpang? Krisis lingkungan? Isu-isu SARA? Dll?…… Dan terakhir apakah saja peluang yang dapat kita gunakan? Pelayanan mobile technology? Trend manusia yang kembali mencari ‘kedamaian jiwa’? dll?……

Tujuan kita memetakan SWOT ini adalah agar kita dapat menggunakan kekuatan kita (dan tentunya kekuatan kita hanyalah kekuatan dari TUHAN saja) untuk memperbaiki kelemahan kita, serta menggunakan peluang yang ada untuk mengatasi ancaman yang dihadapi. Sehingga perumusan Strategi akan lebih fokus dan terarah.

C. Masukan atas Strategi dan Struktur Organisasi GKI KB

1. Strategi

Ketika membaca dan meninjau Rencana Strategi 2009-2015, opini saya adalah: Rencana Strategi tersebut masih terlalu umum atau too generic. 8 strategi yang ada cenderung dirumuskan untuk melakukan semua hal (doing everything strategy), atau dapat dikatakan tidak fokus.

Dasar dari opini saya diatas adalah apakah 8 strategi tersebut dapat mencapai tujuan dengan efektif dan efisien? Strategi-strategi yang terlalu umum dikhawatirkan menghabiskan sumber daya lebih banyak dengan hasil yang tidak maksimal.

Masukan:
Pentingnya menentukan fokus pada strategi-strategi yang urgent dan important serta bersifat jangka panjang.
Membuat skala prioritas strategi & kegiatan

2. Strategi dan Struktur, dan Pengambilan Keputusan.

Salah satu pertanyaan mendasar dalam Perencanaan Strategis, adalah apakah strategi mengikuti struktur organisasi (strategy follows structure) atau justru struktur yang mengikuti strategi (structure follows strategy)?

Menurut saya Rencana Strategi 2009-2015 masih mengikuti paradigma strategy follow structure. Bila hal ini yang terjadi maka strategi-strategi yang disusun menjadi kaku, birokratis dan tidak dinamis dalam mencapai tujuan, karena terhambat oleh proses internal pada struktur sekarang ini. Selain itu proses pengambilan keputusan (decision making proses) pun bisa lama. Dampaknya adalah respon yang lambat terhadap perubahan lingkungan.

Masukan:
Mengevaluasi struktur organisasi GKI KB sekarang, dan membentuk struktur organisasi dan sistem pengambilan keputusan sesuai Rencana Strategi 2009-2016 (Structure follows strategy).

3. Indikator yang diterapkan tanpa base (dasar) dan target

Penjabaran Strategi sampai ke level Indikator adalah bagus dan baik. Namun bila hanya penjabaran indikator tanpa mencantumkan base (dasar), maka tidak ada patokan yang jelas seberapa besar targetnya.

Masukan:
 - Menambahkan base dan target dalam penjabaran detil Indikator

Contohnya:
 - Indikator
 - Base dan Target
1. Program Penguatan tenaga Pelayan Jemaat:
     b. Indikator:
          1) Jumlah Pendeta meningkat.
          2) Jumlah Pendeta yang mempunyai pendidikan S2 bertambah

D. Rekomendasi Strategi Kelompok Kecil (KK)

Mengapa kita memerlukan Kelompok Kecil (KK) didalam kehidupan jemaat GKI KB? Karena KK adalah strategi yang sangat baik untuk mencapai Visi “Menjadi Jemaat Kristen yang mengasihi sehingga akrab, terbuka, peduli dan menjangkau keluar, sebagai murid, saksi dan hamba Allah untuk memberitakan Kristus adalah Tuhan dan Juru Selamat”

Berikut adalah beberapa keuntungan dari metode pelayanan KK yang dapat mencapai Visi kita:

1) Menunjang persekutuan yang akrab dan terbuka antar jemaat.
Sifat KK yang kecil, memungkinkan antar anggota KK lebih saling mengasihi, saling terbuka, dan saling akrab.

2) Jangkauan yang lebih luas.
Pelayanan KK bisa menjangkau sasaran yang lebih luas secara demografis (remaja, atau pegawai dll), dan geografis (tempat persekutuan dapat dimana saja tak terbatas wilayah).

3) Pelayanan keluar yang lebih responsif
Karena bentuknya yang kecil maka KK dapat membuat keputusan dengan cepat bila diperlukan untuk melayani keluar. Pelayanan KK bisa lebih dinamis dan responsif dalam pelayanan kasih kepada lingkungan dalam maupun luar jemaat GKI KB.

4) Pemuridan dan multiplikasi pemuridan
Dalam KK ada pemuridan, sehingga antar anggota saling belajar sebagai murid Tuhan. Lebih lanjut lagi masing-masing anggota dapat menjadi pemimpin KK lain dan membina murid lagi, dan seterusnya; atau multiplikasi. Sehingga pemuridan terus bertambah dan bertambah.

5) Kemampuan untuk memberitakan Kristus (atau Pekabaran Injil)
Bila pelayanan KK sudah terjalin persekutuan dan pemuridan yang solid, maka KK dinilai mampu untuk melakukan tugas selanjutnya yaitu untuk memberitakan Kristus dan kabar keselamatan atau pekabaran Injil.

6) Pembentukan Pemimpin – Pemimpin Kristen
Dalam persekutuan Kelompok Kecil ada Pemimpin dan anggota. Melalui pembentukan KK, dapat pula terbentuk pula Pemimpinnya. Dengan semakin banyaknya KK, maka diharapkan semakin banyak Pemimpin-pemimpin Kristen didalam jemaat Gereja.

3 tantangan pertumbuhan Gereja

November 2, 2009

Seperti bayi yang bertumbuh beranjak dewasa, begitu jugalah Gereja. Dalam proses pertumbuhannya, Gereja menghadapi 3 tantangan besar.

Tantangan pertama adalah tantangan waktu. Gereja yang baru terbentuk ibarat bayi, kemudian menjadi anak-anak, remaja, pemuda dan beranjak dewasa. Umur Gereja menjadi indikator. Misalkan Gereja GKI Kebayoran Baru telah berdiri atau bermur 50 tahun di tahun 2006. Pertanyaan kuncinya bagaimanakah kondisi gereja dari hari ke hari, bulan ke bulan dan tahun ke tahun.

Kemudian tantangan kedua ialah tantangan jaman. Gereja hidup pada jamannya masing-masing. Ada Gereja yang mengalami hidup di zaman pra-kemerdekaan, jaman orde lama, jaman orde baru dan seterusnya. Setiap jaman menorehkan sejarah dan peristiwa-peristiwa unik. Pertanyaan kunci: bagaimanakah Gereja dapat bertahan terhadap perubahan jaman?

Tantangan ke 3: tantangan generasi jemaat. Dalam setiap komposisi jemaat Gereja, normalnya memiliki generasi muda, dewasa, dan lanjut usia. Seiring berjalannya waktu generasi muda menjadi dewasa, dewasa menjadi lanjut usia dan bertambah dengan masuknya generasi anak-anak. Setiap generasi dipengaruhi dengan konteks perubahan waktu dan jaman yang disebutkan dalam tantangan 1 dan 2. Pertanyaan kuncinya: bagaimanakah regenerasi Gereja berjalan?

Ketiga pertanyaan-pertanyaan diatas patut direnungkan untuk menhadapi tantangan pertumbuhan Gereja. Gereja yang baik tentunya siap dengan perencanaan pertumbuhan, dan dengan kerendahan hati membawa rencana itu dibawah kehendak dan rencana agung Tuhan bagi Gereja. Regards,
Danny D. Kosasih

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.